Feeds:
Tulisan
Komentar

Edius4_ttlSaat menjalankan Edius 4 pertama kali, tampak tidak ada yang berbeda denEdius4_ttlgan versi sebelumnya. Tambahan yang terasa adalah sistem menu yang semakin bagus, sangat memudahkan mencari feature yang dulu ada namun tersembunyi. Interfacenya sendiri memang didesain untuk digunakan pada multi monitor, sehingga akan nampak berjejalan walaupun sudah menggunakan resolusi layar 1600×1200. Selain itu dengan satu monitor, besar kemungkinan child windows saling overlap.

Proses capture berjalan sangat mulus hanya dengan menggunakan port firewire biasa. Meskipun HDV didukung, namun bila menggunakan OHCI ini sinyal HDV akan ditranscode secara realtime menggunakan codec Canopus HQ. Dengan codec ini qualitas warna lebih bagus dari native DV. Edius mempunyai kelebihan lain dibanding matrox RT.X2 yang hanya dapat menangani HDV 1440×1080, Edius 4 dapat menangani HDV 1920×1080.

Edius4_gui

Dalam percobaan menggunakan dual 2GB 246 Opteron oleh trustedreview, Edius dapat melakukan mixing lima track DV dalam real time. Sedangkan bila dalam HD dapat melakukan dua track dengan efek 3D PiP filter diaktifkan. Dalam hal multi camera angle, Edius 4 lebih unggul dengan kemampuannya mengedit delapan angle, dibanding Adobe Premiere Pro2 yang hanya empat angle. Hal baru yang lain adalah kemampuan untuk merubah speed dalam satu klip secara dinamik. Fasilitas ini sangat berguna dalam pembuatan iklan yang biasanya dibatasi dengan durasi yang sudah ditentukan sebelumnya. Berbeda dengan Avid Liquid, Edius 4melakukannya dalam real time.

Untuk sebuah produk yang boleh dikatakan belum sedewasa pesaing-pesaingnya, Edius 4 layak mendapat acungan jempol. Mengedit video secara realtime tanpa hardware menjadi pertimbangan menarik, dibanding dengan program editing lain yang harus menggunakan hardware. Perlu dicatat juga bahwa Edius sangat stabil, hampir tidak pernah mengalami crash. Untuk editor yang lebih serius tetap dapat menggunakan bundle hardware yang akan mendongkrak kinerja dan tambahan satu atau dua layer realtime.

Canon XL2 camcorderSalah satu yang menjadi pertimbangan untuk memilih sebuah video camera adalah bodynya. Ada yang menyukai bentuk besar untuk dipanggul, adapula yang lebih suka kecil dalam genggaman atau disangga dengan satu tangan. Canon XL2

menyuguhkan suatu kompromi yang seimbang antara camera panggul dan camera sangga. Dengan teknologi Optical Image Stabilizer, hasil rekaman menjadi lebih stabil, dan goyangan ringan dapat diredam dengan sempurna.Untuk pengguna yang menginginkan rasio 16:9 (widesreen), memilih Canon XL2 sangat tepat, karena pada mode ini, hampir tidak ada distorsi gambar dibanding menggunakan mode 4:3. Reproduksi gambar dengan progressive scan pada 25 fps pada sistem PAL dan 24 fps pada sistem NTSC. Berbeda dengan pendahulunya yaitu Canon XL1, selain menggunakan viewfinder berwarna dengan lensa yang besar, juga menyertakan LCD 2 inchi beresolusi 200.000 pixel. LCD ini terlihat bila kita membuka viewfinder keatas.

Pengguna harus mempunyai jam terbang yang tinggi bila ingin bermain dengan manual fokus, apalagi pada saat pengambilan gambar dengan zoom. Walaupun tidak mendukung interchangable lens, tetapi beberapa lensa seperti Canon Lanc Zoom dapat digunakan. Untuk kualitas gambar tidak diragukan lagi, kontras sangat tinggi dan warna yang natural. Nampaknya CCD Canon terus mengalami peningkatan kualitas, sehingga menjamin ketajaman gambar, walaupun ditampilkan pada TV dengan ukuran besar. Sedangkan untuk suara dengan menggunakan indra manusia sepertinya sama dengan kebanyakan camera yang sekelas. Mic yang digunakan pada Canon XL2 ini kurang begitu bagus. Kadang-kadang suara motor penggerak camera tertangkap mic pada saat pengambilan gambar saat suasana senyap. Untuk keperluan lebih serius sebaiknya menggunakan mic tambahan.

Saran penggunaan, bila anda belum banyak berlatih dengan camera ini, cukup gunakan setting default. Dalam pengaturan ini sudah didapatkan gambar yang sangat bagus, dan white balance yang natural. Untuk pengguna yang lebih sering menggunakan mode widescreen, camera ini wajib anda miliki, apalagi dengan kemampuan merekam dalam progressive scan, dijamin tidak mengecewakan saat shooting OutDoor.

Mungkin banyak di antara Anda yang sempat ditawari handycam ‘bawaan’ dari luar negeri, baik barang baru maupun second, dimana negara produsennya menggunakan NTSC sebagai color system, sehingga otomatis handycam yang ditawarkan tersebut ‘beraliran’ NTSC. Beberapa penjual bahkan tidak mengatakan bahwa handycam tersebut ber-color system NTSC, padahal sedikit banyak akan ditemukan perbedaannya bila dibandingkan dengan menggunakan handycam ber-color system PAL, yaitu color sytem yang memang digunakan di dalam negeri, untuk berbagai keperluan broadcasting dan visual lainnya seperti tv, vcd, dll.Apa perbedaan, kekurangan dan kelebihan memiliki handycam ber-color system NTSC? Yuuk kita cermati bersama . . .

PERBEDAAN utama:
1. FPS atau frame per second yang lebih tinggi dari PAL, dimana pada pal system, fps-nya adalah 25fps, yang berarti dalam 1 detik video kamera merekam 25 gambar, sedangkan pada NTSC menggunakan fps 29,97.

2. Resolusi gambar ntsc adalah 720×480 sedangkan PAL adalah 720×576, yang berarti pada PAL gambar sedikit lebih besar atau ‘tinggi’ daripada NTSC


KEKURANGAN:

1 Apa dampak dari perbedaan fps dan resolusi? salah satunya adalah bila Anda melakukan ‘backup’ atau transfer data ke media lain misalnya ke hardisk untuk melakukan editing, maka waktu untuk editing dan rendering data dari handycam NTSC akan relatif lebih lama untuk diproses karena lebih banyaknya data yang ada (+- 20%) apabila dibandingkan dengan PAL system.

2 Bila Anda hendak menggabungkan hasil shooting dari handycam NTSC dengan hasil shooting handycam PAL, maka banyak software editing video mengalami kesulitan untuk bekerja dengan 2 color system dan resolusi yang berbeda tersebut, sehingga muncul peringatan ataupun error. Dalam hal ini, biasanya salah satu format color system harus di-convert terlebih dahulu sehingga kedua video memiliki color system yang sama (nstc yang diconvert ke pal, atau sebaliknya)

3 Kesulitan untuk menjual kembali, dikarenakan banyak orang tidak menginginkan handycam dengan color system NTSC, karena dianggap format ‘asing’ yang memang biasanya barang bawaan dari luar negeri, dan tanpa disertai garansi.


KELEBIHAN:
1 kelebihan menggunakan video camcorder berformat NTSC adalah tingginya FPS, yang menyebabkan lebih banyak jumlah gambar yang tertangkap, dan hal ini sangat bermanfaat bagi para penggemar video shooting atau movie maker yang membutuhkan efek ’slow motion’. Sehingga dengan video kamera NTSC, diperoleh hasil perlambatan yang lebih smooth karena data gambar tersedia lebih banyak, lain halnya dengan PAL, yang bila diperlambat akan lebih blurry karena kemampuan tangkap gambar 25 gambar per detik

2. Gambar yang dihasilkan bila di-play ke televisi langsung, juga tampak sedikit lebih smooth bagi mereka yang dapat membedakannya, juga dikarenakan fps yang lebih tinggi dari PAL.

3. yang ketiga, bila data video perlu di-backup ke vcd atau dvd video dan dikirimkan ke relasi di luar negeri yang negaranya menganut color system NTSC, maka tidak ada kesulitan dengan hal ini. catatan: tv kita biasanya diset menjadi auto color system, sehingga otomatis switch antara pal (stasiun tv) dan ntsc (dvd movie)

SofTware Penemu Teroris

Perangkat Cerdas Pengenal Wajah Buronan

Terorisme masih menjadi isu yang mencekam. Setelah terjadi peristiwa peledakan atau lainnya, polisi dapat dipastikan sibuk menetapkan daftar tersangka dan adakalanya mulai menyebarkan foto wajah, mencari orang yang diduga sebagai pelaku.

Dalam mengidentifikasi wajah pelaku atau buronan, salah satu caranya adalah dengan mencocokkan wajah tersangka dengan arsip foto. Persoalan menjadi rumit jika arsip foto sangat besar dan proses pencarian dilakukan secara manual. Cara ini butuh waktu cukup lama.

Melihat persoalan itu, Rahmat Widyanto, Ketua Program Pascasarjana Ilmu Komputer Universitas Indonesia sekaligus Manajer Riset di Fakultas Ilmu Komputer, kini mengembangkan Sistem Temu Kembali Citra Wajah. Perangkat lunak itu dipamerkan dalam Gelar Ilmu dan Inovasi Universitas Indonesia 2007 dua pekan lalu. Perangkat itu dikembangkan dengan memerhatikan kekhasan fitur wajah orang Indonesia.

Menurut Rahmat, sistem itu dikembangkan dengan menggunakan metode eigenface dan jarak euclidean. Metode eigenface digunakan untuk melakukan ekstraksi ciri wajah yang penting. Eigenface berbasis pada principal component analysis (PCA), pendekatan yang terbilang paling sukses untuk mengekstraksi informasi wajah.

Metode ini menggunakan proyeksi ruang citra wajah dengan dimensi tinggi ke ruang ciri dengan dimensi lebih rendah. Jarak euclidean digunakan untuk mengukur nilai kemiripan antara dua citra wajah. Semakin kecil jarak antara dua citra wajah, semakin tinggi nilai kemiripannya. Gambar wajah dalam basis data diekstraksi lalu disimpan.

“Ketika pengguna memasukkan gambar wajah yang ingin diidentifikasi, sistem akan mencari kesamaan antara input data dengan gambar wajah yang ada di basis data,” ujar Rahmat yang mendapatkan gelar master dan doktor dari Tokyo Institute of Technology di bidang computional intelegent itu.

Sistem tersebut mampu menemukan citra wajah yang relevan terhadap citra masukan dengan tingkat ketepatan rata-rata 87 persen terhadap basis data citra wajah yang digunakan. Proses ekstraksi ciri wajah terbilang sederhana, cepat, dan efisien.

Rahmat mengatakan, perangkat lunak itu dapat dihubungkan dengan kamera yang kemudian secara otomatis berdasarkan gambar yang dihasilkan, sistem akan mencari apakah wajah itu ada di dalam daftar cekal atau buron.

Perangkat itu akan sangat bermanfaat bagi dunia kepolisian. Alat pengenal wajah ini strategis ditempatkan di bandara-bandara, khusus penerbangan ke luar negeri, yang biasanya melalui meja pengecekan dokumen. Alat itu juga akan amat bermanfaat jika digunakan di markas polisi untuk mengenali wajah-wajah pelaku kejahatan.

Di Universitas Indonesia sendiri, Rahmat sedang berdiskusi dengan pihak panitia seleksi penerimaan mahasiswa baru untuk menggunakan alat itu. Penggunaan alat itu terutama untuk menghindari praktik joki. “Pernah ada kasus dalam formulir pendaftaran foto wajahnya perempuan, tetapi saat penerimaan yang datang ternyata laki-laki. Dengan alat itu, dapat dicocokkan kesamaan wajah,” ujarnya.

Pada tahap laboratorium dan prototipe, perangkat lunak itu dapat digunakan. “Untuk basis data, kami mengambil contoh wajah dari 500 mahasiswa Universitas Indonesia dan gambar-gambar lain dari internet. Sekarang tinggal bersinergi dengan pihak yang membutuhkannya,” ujarnya.

Tanpa bantuan ilustrator

Dalam pengembangannya, laboratorium yang dipimpin Rahmat juga mengembangkan Perangkat Lunak Cerdas untuk Identifikasi Wajah Buron dengan fuzzy similarity measure. Program itu merupakan bagian dari Riset Unggulan Universitas Indonesia, Program Unggulan dan masih dalam pengerjaan.

Identifikasi wajah di kepolisian biasanya dengan pembuatan sketsa wajah oleh ilustrator berdasarkan keterangan saksi. Sketsa itu lalu dicocokkan dengan basis data foto wajah di kepolisian. Kedua tahap ini memiliki masalah besar.

Pada tahap pertama, akurasi sketsa wajah sangat bergantung pada kemampuan interpretasi ilustrator dan kemampuan verbal saksi dalam mengungkapkan ciri-ciri wajah. Pada tahap kedua, petugas pencari foto pada basis data dapat mengalami kejenuhan karena harus membandingkan sketsa wajah dengan semua foto yang ada.

Perangkat lunak yang dikembangkan Rahmat menggunakan antarmuka user friendly yang dapat digunakan untuk memvisualisasi sketsa wajah buronan tanpa bantuan ilustrator. Pengguna dan saksi dapat langsung membuat sketsa wajah tanpa bantuan ilustrator. Mereka cukup memasukkan ciri-ciri verbal dari wajah yang akan diidentifikasi dengan cara memilih properti dari setiap ciri wajah yang akan digunakan sebagai komponen pencari. Untuk lebih mengarahkan pengguna dalam memilih ciri, untuk setiap pilihan properti akan diberi suatu ilustrasi berupa sketsa dari ciri wajah yang dipilih. Permasalahan yang ditimbulkan oleh keterbatasan kemampuan saksi dalam mendeskripsikan ciri-ciri wajah secara verbal pun teratasi.

Hal terpenting yang harus diperhatikan, kata Rahmat, ialah jumlah fitur setiap penciri wajah tidak boleh diisi sembarangan. Semakin banyak pilihan akan semakin membingungkan saksi. Fitur-fitur yang diletakkan pada bagian antarmuka pengguna harus yang benar-benar bisa merepresentasikan generalisasi dari setiap bentuk umum dari ciri yang dimiliki penciri wajah.

Sketsa wajah ini kemudian digunakan untuk mencari foto wajah buronan pada basis data menggunakan teknik kecerdasan buatan yaitu fuzzy similarity measure. Teknik ini memungkinkan pencarian data dengan tingkat kompleksitas tinggi sehingga hasil pencarian lebih akurat. Keluaran dari perangkat lunak ini adalah daftar foto wajah buronan yang diurut berdasarkan tingkat kemiripannya. Proses pencarian akan dilakukan secara bertahap untuk setiap ciri wajah yang telah ditentukan.

Sejauh ini, di seluruh dunia telah dikembangkan beberapa perangkat lunak untuk identifikasi wajah, seperti FACES, Faces-Composite Picture Programe, FACETTE, dan Comphotofit. Perangkat itu merekonstruksi beberapa bagian yang signifikan seperti rambut, dahi, alis, mata, pipi, hidung, mulut, dan rahang. Penggunanya antara lain Badan Pusat Intelijen AS (CIA) dan Biro Investigasi Federal AS (FBI).

Hanya saja, perangkat lunak tersebut tidak mempunyai fitur wajah dengan kekhasan ciri wajah orang Indonesia. Kelemahan lainnya adalah tidak mempunyai fasilitas pencarian berdasarkan sketsa wajah pada basis data foto wajah.

Terkait penelitian itu, Rahmat dan timnya telah berkunjung ke kepolisian. Untuk keperluan identifikasi wajah, Badan Reserse Kriminal Polri Bagian Pusat Identifikasi menerbitkan buku Petunjuk Teknis Nomor Pol: Juknis/01/VIII/2006 tentang Sketsa Raut Wajah. Ciri-ciri wajah yang dimuat di dalam buku tersebut akan digunakan tim itu sebagai acuan pencocokan ciri wajah pada perangkat lunak yang dikembangkan.

Rahmat mengatakan, penelitian tersebut diperkirakan akan rampung tahun depan. Dia berharap penelitian-penelitian itu bermanfaat bagi masyarakat, terutama bagi pihak-pihak terkait, seperti kepolisian agar kelak para buronan yang meresahkan masyarakat semakin mudah terdeteksi. (sumber: KOMPAS)


Produk elektronik murah makin gencar menyerbu pasaran, setelah laptop kini muncul ponsel murah. Bukan hanya murah, baterai ponsel itu bisa bertahan selama 25 hari.Ponsel buatan Intex, sebuah perusahaan asal India, itu memiliki waktu standby 25 hari. Artinya, dengan penggunaan minimal, baterai ponsel itu hanya perlu diisi ulang satu kali dalam 25 hari. Ponsel bernama IN-2020 ini, juga memiliki waktu bicara 7,5 jam.IN-2020 dilengkapi dengan fitur Black List untuk menghindari panggilan yang tak diinginkan, buku alamat yang mampu menampung 500 nomor, serta fitur ringtone lagu sepanjang maksimal 5 menit. Ponsel ini dilempar ke pasar dengan harga 2000 Rupee (sekitar Rp 460 ribu).

“Dengan baterai yang tahan lama dan fitur-fitur yang akrab dan penting bagi pengguna, kami ingin membidik segmen menengah bawah yang jumlahnya berkisar 60-70 persen dari keseluruhan pasar,” tandas Shailendra Jha, Business Manager Intex.

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »